Ceritaku Bersama
Kalian (203)
Awalnya kami hanya sepuluh orang yang tak saling kenal. Di
sebuah kamar bernomor 203 ini, kami dipertemukan. Aku tak tau siapa mereka,
asal mereka darimana, bagaimana sifat mereka, hobi, latar belakang keluarga, bahkan
untuk memanggil merekapun aku tak bisa. Dalam masa orientasi kala itu, kami
dipaksa saling mengenal, atau lebih tepatnya kami dipaksa menghafal biodata
teman-teman seangkatan. Kenapa aku bilang dipaksa? Karena meskipun aku sudah
bisa berbicara dengan mereka, aku tetap tidak bisa mengingat dengan pasti siapa
lawan bicaraku saat itu. Bahkan sampai sekarangpun aku masih tidak ingat siapa
saja orang-orang yang mandi bersamaku dihari pertama, siapa orang yang aku
tanyakan dimana letak ruang cuci piring, siapa orang yang selalu berbaris di
depanku, aku juga masih tidak ingat siapa teman sekamarku yang aku ajak bicara
untuk pertama kalinya. Seiring berjalannya waktu, kami mulai saling mengenal
siapa sebenarnya orang-orang yang tidur dalam ruangan ini. Siapa yang berbagi
lemari dan loker denganku, siapa pasangan yang tidur di atas atau di bawah bad
(tempat tidur), siapa orang-orang yang akan berbagi kamar mandi denganku dan
yang terpenting siapa saja mereka. Teman-teman baru yang akan tinggal bersamaku
selama tiga tahun ke depan.
![]() |
| Kita harus punya foto bareng ne... |
Awalnya kami hanya dipersatukan karena rasa takut, kesal,
dan kesedihan yang sama-sama kami rasakan. Tapi, siapa sangka. Di tempat yang
selalu kita anggap neraka ini, kita saling berbagi. Membagi kekosongan yang
kita rasakan, mengisi satu sama lain, saling berbagi cerita, merasakan senang
& sedih, saling berpendapat, bahkan hal-hal kecilpun kita lalui
bersama. Banyak catatan yang bisa ku tulis di lembar-lembar buku kuliahku. Tapi
aku lebih suka menulis di setiap lembar kehidupanku, mengisinya dengan
kisah-kisah yang bisa kita tulis bersama. Cerita-cerita unik tentang kekonyolan
yang sering kita lakukan, kisah cinta yang sering kita bagi, perasaan tersakiti
yang kadang harus kita rasakan, film yang kita tonton hari ini, makanan yang
sangat kita inginkan namun tidak bisa kita rasakan, dan hal-hal apa yang kita
lalui kemarin, hari ini, esok dan dan kapanpun itu.
Ketika mataku masih tak kuat menatap mentari pagi, saat
itulah kita mulai membuat cerita kita sendiri. Seperti sebuah rekaman kaset
yang rusak, kalimat yang selalu ku dengar disetiap pagi selalu sama.
"Siapa mandi di luar, aku ngamprah ya...", "Lunas mandi di luar?
aku ngamprah", "Aku ngamprah kamar mandi dalam", "Habis
Mayun aku...". Kalimat-kalimat itu selalu keluar dari mulut mereka yang
masih setengah tak sadar dan kemudian memilih menunggu antrian dalam mimpi-mimpi
mereka.
Huhf, kuliah itu membosankan. Duduk berjam-jam mendengarkan
orang-orang pintar berbicara di depan kelas. Ini semua membuat kami merasakan
rasa kantuk yang tak tertahan dan kami harus ekstra keras agar tidak
membayangkan nyamannya berbaring di tempat tidur. Menunggu waktu makan siang
yang terasa lama, selalu saja ada hal yang harus kita lakukan untuk melewati
slide demi slide itu. Aku selalu suka membuat coretan-coretan kecil tentang
mereka. Dan pada akhirnya coretan kecil itu menjadi sebuah kertas penuh
komentar balik dari teman-temanku. Ipin, temanku ini palinng suka berbicara
lewat tulisan. Sebuah pertanyaan sederhana yang ditulisnya akan menjadi dialog
panjang antara kami bertiga (aku, Ipin & Ini) yang duduk saling
bersebelahan. Berbeda dengan Ipin. Hari dan Nini, kedua temanku ini lebih
senang bergunjing tentang beberapa hal kecil yang mereka dapatkan dari jejaring
sosial dan akhirnya menjadi topik mengasikkan untuk mereka perdebatkan. Tude
dan Lunas, dua temanku yang lain. Sepertinya mereka yang paling tenang
mengadapi ocehan dosen yang sedang berdiri di depan sana. Meskipun tiap kali
ketika ku tengok ke arah mereka, dengan susah payah mereka akan menahan kantuk
yang tak tertahankan. Lumen, entah apa yang dia lakukan. Yang ku tau dia tidak
akan pernah absen dari sesi tanya jawab usai kuliah diberikan. Tiga temaku
lainnya (Yati, Mayun & Punyan) yang berada di kelas sebelah. Tentu
mereka melakukan hal aneh lain untuk mempertahankan diri hingga jam kuliah
benar-benar selesai. Ketika ku tanya apa yang mereka lakukan, dengan santai
Punya berkata "Ketawain aja temen-temen yang ngantuk, pasti ngantuknya
hilang". Haahhh, teman satu badku ini....
Penantian panjang berakhir, dan ini waktunya istirahat.
Ketika badan dan pikiran kami terasa letih, tempat yang paling nyaman untuk
disinggahi adalah bad kami masing-masing. Tak jarang dalam tidurku aku
terbangun karena mendengar kalimat-kalimat yang tak lagi asing di telingaku.
"Pengen rujak...", "Mi, mi, buat rujak yuk...", "Ada
buah nggak ya? pengen buat rujak nok!", "Eh, ada bahan kok. Buat
rujak yuk, yang pedes banget", "Cabenya, cabenya, 5 aja. Cuci dulu
buahnya Ni…". Rutinitas kamar yang tak dapat dielakkan. Mami (Yati), Hari
& Nini, mereka tak bisa melihat cabe yang terdiam begitu saja. Alhasil
aku akan terbangun dan bergabung dengan mereka, sekedar mencicipi atau ikut
andil dalam pembuatan rujak ala kamar kami.
Detik berganti detik, menit berganti menit, dan tiap jam
yang kita lalui bersama memberi kesan tersendiri untukku, dan untuk kalian.
Entah perasaan apa yang mengikat kita. Aku senang melihat tingkah kita yang
selalu berbagi dan bercerita tentang apa yang kita rasakan. Melihat
masing-masing dari kita yang saling menawarkan makanan meskipun pemiliknya
belum sempat meraskannya. Menggoda satu sama lain tentang hal-hal yang
sebenarnya hanya lelucon sederhana, saling mengingatkan tentang pentingnya
semangat dalam menjalani hidup, saling berbagi cerita tentang drama-drama korea
yang harus kita lihat bersama atau hanya sekedar membantu mengangkatkan galon
karena salah satu dari kita tak kuat membawanya sampai kamar. Aku suka
memperhatikan kalian yang dengan sabar saling menunggu di depan pintu hanya
sekedar untuk melakukan sembahnyang bersama.
Ketika salah satu dari kita merayakan ulang tahun, entah bagaimanapun caranya kita harus merayakannya bersama. Meski sederhana, hanya dengan setumpuk biskuit sumbangan dan sebuah lilin bontok, lagu happy birthday-pun terlantun. “Selamat ulang tahun teman!!!….” Tak ada keluarga, tak ada kado istimewa, yang ada hanya kami, teman-temanmu yang selalu ada untukmu. Kamilah keluarga barumu. Senyum dan tawa kebahagian di hari jadimulah yang kami inginkan. “Semoga panjang umur…..”
Ketika salah satu dari kita merayakan ulang tahun, entah bagaimanapun caranya kita harus merayakannya bersama. Meski sederhana, hanya dengan setumpuk biskuit sumbangan dan sebuah lilin bontok, lagu happy birthday-pun terlantun. “Selamat ulang tahun teman!!!….” Tak ada keluarga, tak ada kado istimewa, yang ada hanya kami, teman-temanmu yang selalu ada untukmu. Kamilah keluarga barumu. Senyum dan tawa kebahagian di hari jadimulah yang kami inginkan. “Semoga panjang umur…..”
![]() |
| Kue Ultahku harus kayak gini, hahahaaaa (maunya :D) |
Bagiku ini seperti sebuah dongeng sebelum tidur yang akan
mengantarkanku ke cerita menarik lainnya esok hari. Cerita yang yang tak akan
pernah sama, cerita yang akan kita tulis bersama hingga menjadi sebuah kenangan
indah di masa yang akan datang. Dan aku adalah bagian dari cerita itu.








0 komentar:
Posting Komentar