Menurutku teman itu segalanya. Dan tanpa mereka aku nggak mungkin bisa jadi seperti sekarang. menjadi pribai yang dewasa dan tetap semangat. Mereka nggak cuma ada waktu aku lagi seneng, mereka selalu ada buat aku ketika aku lagi sedih, tertekan, down dan yang terpenting mereka nggak akan pernah ninggalin aku ketika aku bener-bener lagi butuh mereka. Ini Dua kisahku bersama teman-teman yang jauh di sana (di luar kotaku) selam sebulan terakhitr
Mungkin selama ini belum banyak yang bisa aku ceritain tentang kampusku. Bisa dibilang nggak sebanyak waktu aku posting cerita-ceritaku di Trisama atau di Madyapadama. Ini pertama kalinya aku bilang kalau sekarang aku kuliah di Jurusan Kebidanan POLTEKKES Kemenkes Denpasar. Berat waktu harus mutusin aku kuliah di sini. Padahal banyak peluang lain yang bisa aku ambil, termasuh masuk di jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatku. Tapi karena orang tua aku harus dengan lapang dada mengambil pilihan ini. Samapai sekarang aku masih sulit menerima keberadaanku disini. Bukannnya nggak mau nyoba buat nerima ini semua, tapi emang sulit aja ngejalanin apa yang nggak kita inginin. Nggak jarang aku kepikiran buat keluar dari semua rutinitas ini. Tapi nggak bisa. Selain karena nggak dapet ijin dari orang tua aku juga bukan tipe orang yang bisa begitu aja ngecewain orang tuaku dengan nggak ngikutin kemauannya mereka. Suatu saat ketika aku lagi down banget dan udah bertekat bulat buat ngelepas semua ini. Tapi seorang sahabat mengatakan "Jangan pernah menyerah, emang ini tahun yang sulit buat dijalanin. Tapi kita tetep harus semangat." Dukungan dari temen-temen itu emang sangat berpengaruh buat aku. Nggak cuma dari satu teman, ketika aku memutuskan untuk nyoba ke pilihan lain, temen-temenku pada nggak ngedukung. Mereka malah nyuruh aku buat tetep bertahan hingga akhir. "Kita harus berusaha semampunya, kita masih punya semangat MP yang udah ada dalam diri kita, jadi kita nggak boleh kalah sama situasi." Semua dukungan dari mereka kembali membuat aku bangkit dan semangat lagi. Sementara ini aku masih memutuskan untuk menyelesaikan kuliahku ini dengan akhir yang entah bagaimana nanti. Akan aku buktiin ke sahabat-sahabatku bahwa aku bisa ngelewati semua ini dan menyelesaikannya dengan sebuah akhir yang indah.
Selasa 10 April 2012, hari ini hari pertama Diesnatalis di kampusku. Pertandingan hari pertama adalah pertandingan voli putri. Aku termasuk salah satu mahasiswa yang menawarkan diri untuk intensif mengikuli latihan demi pertandingan ini. Aku memang tidak terpilih, tapi aku tetap semangat untuk memperjuangkan almamaterku. Meskipun sudah lama ditentukan tim intinya, tapi aku tetap ikut latihan. Sebisa mungkin aku akan membantu lahihan teman-temanku.Dan akrirnya waktu pertandingan sudah datang. Namun entah kenapa firastku sudah memberikan pertanda buruk. Bahkan aku sampai membawa perasaan nggak enak itu ke emosi. Pagi-pagi aku udah marah-marah di kamar karena kondisi kamar yang kurang bersih. Belum lagi beberapa teman yang sudah terlambat masih santai melakukan aktivitasnya sendiri. Terpaksa aku yang juga sebagai sie acara harus menunggu mereka dengan muka merengut nenahan marah. Belum lagi diperjalanan ada kabar bahwa temanku yang terlambat tadi ban motornya bocor. Jadi harus balik jemput dia dan nganterin ke asrama. Mana aku nyasar lagi waktu mau ke tempat lomba.Lengkap sudah...
Lewat dari kejadian yang tadi, aku enjoy aja waktu nyorakin temen-temen biar semangat mainnya. Awalnya mereka main bagus banget, itu buat kita para suporter semangat dan nggak berhenti teriak-retiak. Meskipun kita keliatan norak dan tenggorokan udah serak, tapi kita tetap semangt. Tapi sayangnya mulai di pertengahan permain, kita udah pada kehabisan tenaga. Dan semangat nereka mulai mengendur. Belum lagi kondisi lingkungan yang nggak mendukung banget. Dan akhirnya kita harus menerima kekalahan.
Menurutku ini bukan hasil yang seharusnya kita terima, mengingat gimana perjuangan waktu kita latihan dan permainan kita yang menurutku sudah bagus. Ini juga bukan hasil yang kita inginkan, apalagi tahun lalu kita mendapatkan juara 3. Aku sedih, bahkan menagis. Aku bikan tipe orang yang mudah menerima kekalahan. Aku butuh waktu yang lama buat nerima kalau kita emang kalah. Waktu SMA banyak teman-teman yang akan balik dukung aku. Mereka tetap ngasi semangat dan banyak dukungan yang akan mereka kasi ke aku. Tapi aku nggak dapetin itu semua dari temen-teman baruku. Seketika aku meng-SMS teman-temanku yang sudah jauh dariku tapi tetap selalu ada buat aku. Nggak sampai beberapa menit, mereka membalasnya:
"Sabar fin, mungkin waktu SMA kamu masih bisa bangkit karena teman-teman. Dan sekarang Tuhan minta kamu kembali semnagat karena dirimu sendiri. Jangan putus asa fin. Kekalahn yang buat kita kuat. Bukan kemenangan belaka"
"Nangis nggak papa, yang penting kamu jangan nyerah. Aku kalah juga pasti nangis. Tapi inget, masa kamu udah kalah lomba juga kalah ngelawan rasa putus asa?
Aku pengen liat semangatmu yang besar kayak SMA dulu fin. Akupun salut. Kalau udah kuliah. harus lebih baik dari SMA"
"Semangat fin :) jangan putuas asa, next time pasti bisa berhasil kok x) aku juga kangen . Ganbatte ne!"
"Sabar ya fifin sayang...
Masih banyak lomba-lomba lain yang kamu bisa buktiin kamu bisa jadi yang terbaik. Jangan putus asa atau mogok nggak mau ikut lomba. Hheeehheee. Semangat fin yeyeee..."
"Peluk cium buat fifin. Kalah menang tu biasa fin:) improve yaour ability :)"







0 komentar:
Posting Komentar