“Betapa membanggakan ketika yowana Bali tidak hanya sekedar mengerti namun telah memahami dan menerapkan satwika dalam kesehariannya,” tutur remaja Bali, Ni Putu Suci Prastiti.
Impian itu tercetus saat obrolan santai dengan penulis beberapa hari lalu. Ketika itu tengah berlangsung persiapan untuk menghadapi lomba Kording (Korang Dinding) yang diselenggarakan FPMHD Unud (Forum Persaudaran Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Udayana). Bukan tanpa alasan Suci dan penulis membahas masalah yowana dan satwika. Pasalnya tema yang diangkat untuk perlombaan saat itu adalah “membangun yowana yang bersifat satwika”. “Ini adalah salah satu kegiatan FPMHD untuk kembali membentuk yowana yang bersifat satwika,” jelas Putu Sri Yuni Swandhani, salah satu panitia lomba Kording.
Satwika sendiri adalah sifat kedewaan yang patut dicontoh manusia. Dalam keseharian masyarakan Bali sendiri, satwika sangat mudah diterapkan. “Sederhananya bisa kita lakukan dengan selalu berfikir positif, jujur dan berkikap baik. Hanya saja sifat satwika yang dimiliki remaja Bali setiap tahun mengalami penurunan”, kritik anggota HIJ (Himpunan Informasi Jurnalistik) FPMHD ini.
Gencarnya serangan teknologi saat ini, menimbulkan dampak negatif terhadap remaja sebagai produk bangsa dinilai masih sangat rentan. Penguasaan teknologi yang tidak diimbangi dengan kebutuhan rohani, mulai mengikis satwika para yowana Bali. “Kebanyakan remaja Bali masih belum bisa menyeimbangkan antara teknologi dengan kebutuhan rohani. Itu yang membuat mereka mudah menyalah gunakan pemanfaatan teknologi,” kata Putu Gede arya Bogantara, wakil ketua panitia.
Disinilah peran penting organisasi-organisasi keagaaman utamanya bagi remaja Hindu. Forum Hindu merupakan salah satu wadah bagi remaja Bali untuk lebih mendalami agama Hindu. Atas dasar keyakinan yang sama, mereka bersama-sama mempertahankan kebudayaan Bali. Tengok saja FPMHD, yang merupakan salah satu forum Hindu gagasan mahasiswa Unud. Saat ini mereka tengah gencar kembali menghidupkan sifat satwika remaja Bali. Berbagai kegiatan mereka lakukan untuk kembali memunculkan kembali sifat satwika remaja Bali. Diantaranya adalah bazaar yang difungsikan untuk mempererat kekeluargaan, DSP (Dharma Santi Penyepian), Gema Bakti Saraswati, Peperuman agung, DPA (Dharma Pasraman Anggota), DPO (Dharma Pasraman Organisasi) dan beberapa kegiatan lain. ”Kegiatan-kegiatan ini adalah salah satu cara yang dapat kami lakukan untuk memumbuhkan sifat satwika remaja. Zaman inikan sudah tua, jadi harus didampingi dengan sifat satwika,” jelas Arya yang juga merupakan ketua bidang HIJ FPMHD.
Ketika memasuki sebuah organisasi Hindu, remaja akan dikenalkan dengan sifat religious (keagamaan), human (sosial), nasionalis, dan progresif. Ketika remaja mengerti keempat sifat ini, mereka akan memiliki dharma yang lebih baik sehingga memiliki bekal untuk tetap bertahan dalam arus globalisasi. Bergabung dengan organisasi keagamaan terbukti memberika dampak positif bagi pelakunya. “Forum itu kayak ngayah, jadi bisa jalan-jalan sambil banyak belajar. Terutama memperdalam agama Hindu,” ungkap Yuni. Pendapat demikian juga disampaikan Arya,”di sini kita bisa banyak belajar, mengenal agama Hindu lebih dalam dan bersikap lebih baik atau dharma kita.”
Ketika ditanya mengenai pentingnya sebuah organisasi Hindu untuk mewujudkan yowana Bali yang tetap bersifat satwika di tengah arus globalisasi kepada Kadek Sumadiarta, Ketua Pimpinan Daerah KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia) Bali. Dengan yakin Sumadiarta menjawab, “pada dasarnya, sebuah organisasi Hindu memiliki tujuan untuk membentuk yowana yang bersifat satwika. Untuk itu sangat diperlukan sebuah organisasi keagamaan dalam suatu daerah”. Menurutnya, sebuah organisasi dapat melatih remaja Bali untuk lebih mandiri, bertanggung jawab dan utamanya memperdalam kehohanian dan persiapan mental sebagai bekal menghadapi arus globalisasi. “Dengan demikian, harapan untuk meningkatkan potensi generasi muda bukan hanya impian, namun realita.” (fin)







0 komentar:
Posting Komentar