Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Selasa, 03 Agustus 2010

Ini Kisah Si Pemulung Tulisan

Satu kesempatan, seorang laki-laki berprofesi sebagai kuli tinta tengah berbicang dengan seorang kenalannya. Kuli tinta ini mengutarakan idenya tentang rencana membukukan tulisan-tulisan karya “kawan-kawan”-nya yang masih duduk di bangku SMA. Namun, idenya malah dipertanyakan oleh si teman. “Untuk apa? Apa yang bisa anak-anak SMA tulis? Apa laku dijual?”

Ternyata pertanyaan itu untuk beberapa lama mengganggu pikiran Si Kuli Tinta. Pertanyaan seorang teman. Dan mungkin saja pertanyaan bagi sebagian besar mereka yang merasa dirinya sudah menjadi orang dewasa. Merasa menjadi yang “lebih tahu”, “lebih hebat” bahkan “lebih profesional” dari kawan-kawan remaja SMA.

Tapi Si Kuli Tinta tak patah semangat. Justru dia semakin giat mengumpulkan tulisan-tulisan kawan-kawan SMA. Kebetulan pula Si Kuli Tinta sangat akrab bergaul dengan kawan-kawan SMA yang tergabung dalam sebuah klub jurnalistik. Dan dari sinilah Si Kuli Tinta mulai mengumpulkan karya-karya kawannya yang kian hari kian kritis menyikapi permasalahn yang berkembang di sekitarnya. Apalagi fakta yang didapat ketika teman-teman Si Kuli Tinta diberi kesempatan mewawancarai kawan-kawan SMA. Hasilnya, pernyataan-pernyaan kritis disampaikan oleh kawan-kawannya.

Hal ini membuat Si Kuli Tinta mulai mengumpulkan satu persatu tulisan-tulisan kawan-kawannya yang dinilai cukup kritis dan pantas dipublikasikan. Yah, meskipun masih dengan gaya penyajian yang tidak selihai jurnalis-jurnalis berpengalaman. Bermodalkan tekat dan keyakinan, Si Kuli Tinta mengajak kawan-kawannya membukukan kumpulan tulisan yang ada. Desain dan rancangan buku merupakan buah pikiran dari kawan-kawannya dibantu Si Kuli Tinta. Tak puas hanya menerbitkan satu buku, Si Kuli Tinta terus mengumpulkan tulisan-tulisan kawan SMA-nya. Meski telah mengalami pergantian pengurus dalam organisasi jurnalistik tersebut.

Bahkan beberapa tahun setelahnya, tak tanggung-taggung sebanyak 14 buku diterbitkan dalam satu periode. Suatu kejadian yang menghebohkan dan patut diacungi jempol. Awalnya kawan-kawan SMA-nya merasa ragu akan pembuatan 14 buku tersebut. Namun, Si Kuli Tinta terus memberi dorongan dan motivasi dalam pelaksanaannya. Isi bukunya dipertahankan se-asli mungkin dengan gaya dan cara bertutur yang seadanya. Ini menampilkan kemauan dan daya kritis yang apa adanya yang dimiliki kawan-kawan SMA-nya. Proses editing yang di lakukan Si Kuli Tinta rata-rata hanya dilakukan sebanyak 10 % dari tulisan itu sendiri. Si Kuli Tinta hanya memposisikan dirinya sebagai “pemulung tulisan”.

Tak muluk-muluk, Si Kuli Tinta ini hanya berharap buku-buku karya kawan-kawannya bisa menjadi jendela orang-orang dewasa agar tidak selalu memandang bahwa kawan-kawan SMA-nya hanyalah “anak bawang” yang tidak tahu apa-apa. Melainkan memandang kawan-kawan SMA-nya adalah seorang yang mungkin lebih baik dari kita yang lebih dulu dewasa. Bukankan sikap itu tidak salah?

Dan kini, Si Kuli Tinta selaku “pemulung tulisan” tak lagi terdiam atau pusing memikirkan jawaban dari pertanyaan temannya. Bahkan dia akan balik bertanya “Mana buku karyamu? Anak SMA saja sudah membuat 14 buku.”

Inilah sepenggal kisah dari seorang PEMULUNG TULISAN.

0 komentar: