Setelah sekian lama tidak berjumpa, akhirnya tahun ini aku kembali bertemu dengan sahabatku. Teman seperjuangan dalam mewujudkan impian-impian masa SMA. Pertemuan singkat, hanya sekitar dua jam kebersaan intensif antara aku dan dia. Di sebuah angkringan pinggiran kota, kami memulai sebuah perbincangan pribadi. Sebuah topik yang tak ku sangka akan kami pilih dalam pertemuan kali ini. “Pencarian pasangan hidup”.
Aku dan sahabatku berada dalam kondisi dimana hal yang satu ini masih belum menjadi prioritas utama kami dalam beberapa tahun ke depan. Namun, orang tua kami mulai cemas dan menuntut perihal kepemilikan pacar. Bukannya kami terlalu memilih atau enggan untuk mencari. Tapi kami memiliki pendapat tersendiri mengenai “Dia” yang akan datang dalam kehidupan kami. Dan kami masih dalam proses pencarian itu. Lingkungan dan agama adalah tantangan kami saat ini. Banyak laki-laki yang kami temui setiap hari. Diantara kebanyakan itu, tentu ada yang menarik perhatian kami barang satu atau dua orang. Tapi kami tidak memiliki nyali untuk bermain-main dengan cinta dan agama. Tuhan menciptakan cinta untuk menyatukan sebuahn berbedaan. Tapi ada kalanya perbedaan itu terasa menyakitkan, terutama dalam urusan cin(T)a. Dan kami terjebak dalam situasi ini. Kami masih cukup waras untuk bisa memikirkan perasaan orang tua kami. Kami lebih memilih membunuh rasa cinta yang tiba-tiba muncul pada “Dia” yang berbeda keyakinan dengan kami.
Perkara mencari pacar bukanlah hal yang mudah. Untuk ketidak mudahan itu, kami perlu berhati-hati dalam memilih pasangan. Tidak perlu terburu-buru. Karena kami yakin Tuhan telah memilihkan laki-laki yang tepat untuk kami. Laki-laki yang mampu menjadi imam dalam agama kami masing-masing. Laki-laki itu akan segera datang, pada waktu dan tempat yang tepat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar