Aku tanpa alas kaki, terduduk di ruangan ini. Dingin ubin kurasakan di telapak kakiku. Di malam yang sunyi ini, aku sendiri, duduk memeluk lututku sendiri. Sepi. Jangankan hingar bingar, sama sekali tak ada yang namanya keramaian. Ruangan ini penuh senyap.
Tidak, kurasa aku salah. Sayup-sayup masih bisa ku dengar hembusan angin menerbangkan gorden jendelaku, menyentuh kelambu tempat tidurku, dan menerbangkan anak rambutku. Semakin dingin, membuatku merapatkan pelukan pada kakiku. Kurasakan percikan air mengenai kulitku dan mulai membasahi ubin. Ah! Ternyata angin membawa hujan bersamanya. Mulai ku dengar satu persatu bising air hujan mengenai apapun yang menghalanginya turun ke bumi. Wangi tanah tersiram hujan menggoda indra penciumanku. Kurasa, di bawah sana sudah basah dengan genangan air.
Tap tap tap...
Ada suara lain di luar. Suara itu terdengar masih jauh. Gemaan langkah berat mendekati kamar ini. Aku terperangah, menanti kedatangannya dalam diam. Suara itu semakin mendekat.
Ceklek...
Cahaya remang memebus kegelapan ruangan. "Aku memenuhi janjiku," suara bariton laki-laki setelah suara pintu terbuka. Dia yang kunanti, masih seperti yang dulu, enam tujuh bulan lalu. Wajah tegas penuh wibawa, tubuh tegap berkarisma, masih dengan sepatu hitam senada dengan warna jaket kulitnya. Dan, sedikit tambahan luka sayat di lehernya. Aku tersenyum hangat, "selamat datang suamiku."







0 komentar:
Posting Komentar