Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 14 Mei 2014



Harga Diri
Mereka menyebutku harga diri. Hargaku sangat mahal. Meski hargaku tinggi, banyak orang yang memperebutkanku. Dari yang hanya menggunakan kaos oblong, sampai yang menggunakan jas mewah dengan gaya perlente. Saat diriku dilelang, beragam angka mereka sebutkan. Mulai dari puluhan hingga milyaran. Tak lebih dari tiga puluh menit dari penawarku dibuka, aku telah jatuh pada mereka yang menawarku dengan harga tinggi. Bukannya aku sombong dengan meminta harga tinggi. Tapi karena hanya aku yang setia menemani ketika semua milik mereka menghilang.
Mereka masih menyebutku harga diri. Saat ini hargaku hanya senilai bandrol yang menempel di badanku. Lima ribu rupiah. Meski hargaku murah, tak banyak lagi yang memperebutkanku. Tak ada lagi pelelangan untukku. Kini aku hanya menjadi pajangan di etalase sebuah toko. Berjam-jam bahkan berhari-hari sejak bandrol murah ini menempel di tubuhku, tak ada yang mau membeliku. Harga diri tak lagi penting, meski diskon ditulis merah-merah di bandrolku. Atau mungkin, harga diri tak lagi dibutuhkan?

0 komentar: