Aku, Waktu, dan Segala Kesia-Siaannya
Saat aku berdiam
diri tidak berbuat apa-apa. Duduk merenung di sudut ruangan ini. Aku masih
sering lupa, kalau waktu tetap berjalan dalam kesendirianku. Waktu tidak pernah
ikut berdiam diri. Dia tetap bergerak detik demi detik, hingga siang berganti
malam, dan pergantian musimpun telah berlalu. Ia tidak pernah perduli padaku yang
menginginkan malam lebih panjang dari malam-malan yang biasanya. Ia tidak perduli,
bagaimana aku ingin sekali waktu tidak beranjak dari tempatnya.
Ketika aku disibukkan
oleh hal-hal yang hampir tak berguna. Bercerita dan tertawa haha hihi kesana
kemari. Tak terasa waktuku hari ini telah habis. Dan aku masih belum berbuat
apa-apa.
Saat aku disibukkan
oleh perasaan yang tidak penting. Memikirkan orang lain yang belum tentu
memikirkanku. Sibuk berandai ini dan itu. Bersedih hati dan mengurung diri. Tak
terasa aku telah menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk mengurusi
perasaanku kepada seseorang yang tidak begitu penting.
Sementara mimpiku
masih banyak dan belum terwujudkan satupun. Sementara orang tuaku masih ada dan
telah lanjut usia. Sedang aku belum membahagiakan mereka sedikitpun. Bahkan
hanya untuk membuat mereka bangga kepadakupun aku belum mampu.
Hingga tak terasa
waktu begitu cepat telah berlalu. Sementara aku ternyata tidak kemana-mana. Masih
berdiam diri tidak berbuat apa-apa. Waktuku akan habis sebentar lagi, dan aku
masih duduk merenung di sudut ruangan ini. Mengamati orang lain begitu cepat
bergerak. Sedang aku justru berjalan mundur, menjauhi mimpiku. Dan aku
menyesali setiap kesia-siaanku yang telah terjadi.
Tenyata……
Ada yang lebih penting daripada sekedar memikirkanmu.
Ada yang lebih penting daripada
sekedar bermain-main.







0 komentar:
Posting Komentar