Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 15 Januari 2014



Keseimbangan IQ, EQ, dan SQ
dalam Pendidikan Kebidanan
oleh: Fifin Diah Olivianti

Pekerjaan seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Pasalnya mereka dituntut untuk memiliki keahlian, kecerdasan, dan ilmu pengetahuan yang tinggi dibidang kesehatan khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi perempuan. Bidan merupakan profesi yang mulia karena mampu mengabdikan dirinya kepada tugas kemanusiaan. Pekerjaan ini harus dilakukan dengan cara-cara yang mulia melalui kompetensi yang baik, sikap yang benar dan dilandasi dengan nilai-nilai etika profesi. Menjadi seorang bidan harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, cepat dan tanggap dalam bekerja, lebih mengutamakan kualitas, tidak membeda-bedakan layanan, mampu mengendalikan diri atau emosi, mengabdikan diri pada pengguna jasa semata-mata untuk alasan profesional, serta menjunjung tinggi etika profesi. Secara sederhana, hal penting yang dibutuhkan untuk menjadi seorang bidan adalah kecerdasan intelektual (IQ), kemampuan dalam mengontrol emosi (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Untuk menyeimbangkan ketiganya, seorang bidan telah dilatih melalui sebuah pendidikan formal bidan.
IQ (Intelligence Quotients) yaitu kecerdasan manusia dalam kemampuan untuk menalar, perencanaan sesuatu, kemampuan memecahkan masalah, belajar, memahaman gagasan, berfikir, penggunaan bahasa dan lainnya. Maka disini jelas bahwa seorang bidan harus memiliki IQ dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Seorang bidan harus memiliki kecerdasan dalam memecahkan masalah atas kasus yang sedang ditanganinya, bidan harus selalu belajar, berfikir yang cerdas serta bertutur kata yang halus dan sopan. Pada intinya seorang bidan harus pintar (memiliki kecerdasan otak). Namun pada prinsipnya, IQ seorang bidan dapat dilihat dari kesanggupannya bersikap dan berbuat cepat dan tepat terutama dalam pengambilan keputusan atas kasus yang sedang dialami pasiennya dalam berbagai situasi. Namun dalam perjalannya, tidak sedikit bidan yang tidak mampu memposisikan dirinya dalam menghadapi pasiennya. Mereka tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan emosi dan suasana hati ketika menghadapai pasien. Pada akhirnya mereka terlalu larut dalam masalah yang dihadapi pasiennya dan mempengaruhi kemampuan befirikir bidan dalam mengambil keputusan.
Disinilah kecerdasan emosi atau emotional quotient (EQ) dibutuhkan. EQ merupakan serangkaian kemampuan mengontrol dan menggunakan emosi, serta mengendalikan diri, semangat, motivasi, empati, kecakapan sosial, kerja sama, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Seorang bidan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat juga harus memiliki kemampuan pengendalian diri sendiri, semangat, ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan dalam menghadapi masalah. Seorang bidan harus mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, menumbuhkan hubungan saling percaya dan mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe orang, memiliki kemampuan menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh pasiennya. Melalui sikap empati, seorang bidan mampu membina hubungan baik, meyakinkan, mempegaruhi dan membuat pasiennya nyaman ketika pasiennya menyampaikan masalah yang sedang dihadapinya. Dengan demikian, bidan akan dengan mudah membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi pasiennya. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empati, kemampuan memahami orang lain dan sosial.
Setelah memiliki IQ dan EQ selanjutnya bidan dituntut memiliki SQ (Spritual Quotiens). SQ didefinisikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan, kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri seseorang. SQ bagi bidan adalah inti dari segala intelejensia. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai spiritual. Dengan adanya kecerdasan ini, seorang bidan akan mampu membawa dirinya untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki, karena dia memiliki kepercayaan di dalam dirinya, dan juga bisa melihat apa potensi dalam dirinya. Intinya, bagaimana dia bisa melihat hal itu. Seorang bidan tidak hanya dituntut berkerja sebagai pengabdian kepada masyarakat dalam upaya pelayanan prima, tetapi juga dituntut mampu menjaga dan mensejahterakan keluarganya, dan lebih utama dari pekerjaan dan keluarga adalah pengabdian kepada sang pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.
Peran seorang bidan di bidang kesehatan khususnya pelayanan kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi perempuan sangatlah dibutuhkan masyarakat. Ketika memberikan pelayanan, bidan tidak lagi mengenal istilah siapa, kapan dan dimana. Pengabdian mereka sangatlah tinggi. Untuk itu dalam melaksanakan tugas dan fungsinya di masyarakat, bidan harus memiliki IQ yang mapan, EQ yang stabil, dan SQ yang terpelihara. Ketiganya harus selaras dan seimbang untuk membentuk pribadi bidan yang mampu secara proporsional, bersinergi, dan menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Sehingga mampu menjalankan tugas mulia seorang bidan.

Artikel ini ditulis sebagai salah satu persyaratan dalam pendaftaran beasiswa data print
  

0 komentar: