Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 16 Oktober 2013

Dia, Si Penguasa…

Aku duduk di dalam kamar kos ku. Di atas tempat tidur kecil yang selama beberapa hari ini telah menjadi alas tidurku. Saat ini, kurasakan lelah yang amat sangat mendera tubuhku, pikiranku kacau. Semuanya bermula dari kejadian tadi pagi. Ketika dia datang dan meluapkan semua amarahnya kepadaku. Dia marah, tanpa alasan yang jelas. Dia berkata kalau ini semua karenaku, karena aku yang memimpin teman-temanku. Siapa yang memimpin dan apa yang dipimpin? Aku bahkan baru menampakkan wajahku didepannya. Dan dia sudah mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan untukku.
Sedari tadi aku ingin menanggis, air mataku sudah ingin tumpah. Tidak, aku tidak boleh menangis, air mataku tidak boleh jatuh. Kalau aku menangis, berarti aku kalah dan dia menang. Dia yang selalu merasa benar telah memandangku hina sejak satu tahun lalu. Saat itu aku memang telah melakukan kesalahan. Bukankah orang lain juga pernah melakukan kesalahan. Dan aku telah memperbaiki kesalahanku sama seperti orang lain memperbaiki kesalahannya. Aku sama seperti orang lain, seperti teman-temanku. Tapi kenapa dia harus memperlakukanku berbeda? Apa karena aku memiliki sedikit keberanian untuk mengungkapkan pendapatku. Dia mengatakan aku sudah terlalu pintar hingga mampu mengatur dirinya. Siapa yang mengatur siapa? Bukankah dia yang selalu mendikte semua orang dibawahnya. Hingga mereka tunduk dihadapannya dan mengikuti kata-katanya.
Di sini, di tempat yang dipimpinnya. Dia mengekangku, mengikatku dengan peraturan-peraturan konyol dan membatasi ruang gerakku. Dia tidak pernah tau bagaimana perjuanganku untuk menjalani kehidupanku saat ini. Semuanya terasa berat, dan bertambah berat karena perlakuannya. Dia tidak pernah tau, bahwa aku menempuh perjalanan panjang untuk menemukan jati diriku. Susah payah aku membagun kepercayaan diriku. Hingga akhirnya aku bisa memiliki kemampuan yang bisa aku banggakan, adikaryaku. Adikarya yang hanya dipandang sebelah mata olehnya. Bakhan tak akan pernah bisa dihargai olehnya. Dia tidak berhak memperlakukanku seperti ini. Akan kubuktikan, bahwa aku bisa bertahan menghadapinya. 

Tgl. 16 Oktober 2013

0 komentar: