Tahun ini aku
memilih merayakan lebaran di kampung halamanku, Lamongan. Dua kali lebaran
sebelumnya, aku merayakan lebaran di Pulau Bali. Sejak aku memasuki bangku kuliah,
agak sulit memang untuk meminta ijin di tengah padatnya jadwal kuliah. Setelah
menunggu dua jam lamanya di Terminal Ubung, akhirnya bis yang aku tumpangi
berangkat juga. Sampai di pelabuhan, aku masih harus menunggu antrian sekitar
4-5 jam hingga bis yang aku tumpangi bisa menyebrang, meskipun dengan kapal
tronton (kapal penggangkut truk). Sampailah aku di Terminal Bungurasih.
Eits,.., bukan berarti aku sudah sampai di kampung halamanku ya... Aku masih
harus menunggu sekitar satu jam lamanya sampai bus antar kota datang. Bis yang
kutunggu-tunggu pun datang. Susah payah aku berdesakan dengan penumpang
lainnya, dan akhirnya aku bisa masuk ke dalam bis ini. Perhatikan kata-kataku
“MASUK KE DALAM BIS”. Yah!, aku memang berhasil masuk ke dalam bis, tapi nggak
untuk mendapatkan tempat duduk nyaman di dalam bis. Alhasil aku harus berdiri
sekitar satu setengah jam sampai bis antar kota ini berhenti di pintu masuk
desaku. Fiuuh,… perjalanan yang memelahkan.
Selama satu minggu
ke depan aku akan berada di kampung halamanku ini. Tepatnya di Desa Ringin dan
Desa Belok. Dua desa yang saling berdampingan tempat kedua orang tuaku
dilahirkan (ibuku dari Desa Belok, nah kalau bapakku dari Desa Ringin). Banyak
yang berubah dari kedua desa ini sejak terakhir kali aku ke sini. Selama ini
aku hanya mendengar perubahan-perubahan itu dari mulut kedua orang tuaku atau
dari saudara-saudara yang baru datang dari kampung.
Nggak tau ya…
sejak kapan sudah ada gedung lapangan futsal yang berdiri di bagian depan pintu
masuk desa. Jalanan desa yang dulu selalu berdebu kalau dilewati kendaraan,
sekarang sudah menjadi jalanan beraspal. Beberapa lahan yang dulunya kosong
sekarang sudah dijadikan rumah hunian. Bahkan rumah hunian yang dulu masih
berdiri begitu sederhana, sekarang sudah dipugar sesuai dengan keinginan
pemiliknya. Kantor kepala desa dan satu-satunya Sekolah Dasar yang ada di
perbatasan Desa Ringin dan Desa Belok (aku lupa namanya) juga sudah dipugar.
Baru beberapa hari aku berada di kampung ini, lebih banyak lagi perubahan yang
aku ketahui. Siapa sangka, mereka yang seumuran denganku bahkan yang lebih
kecil satu-dua tahun dariku sekarang sudah menikah. Ada juga yang sudah hamil,
memiliki anak, atau saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahannya.
Berdasarkan penjelasan dari ibu ku, beberapa dari mereka adalah teman masa
kecilku (sebenarnya aku nggak inget mereka sama sekali). Warung bakso dekat
rumahku yang sering disebut sebagai warung bakso Mbak Sumini sekarang sudah pindah
tempat, ke ujung Desa Ringin. Beberapa spanduk partai politik juga mulai
terpasang di jalanan desa.
Meskipun banyak
perubahn yang terjadi, ada juga beberapa hal yang masih tetap sama setiap
kedatanganku ke kampung ini. Hal pertama yang nggak berubah di Desa Ringin
adalah kesulitan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sistem aliran air di desaku
itu diatur dengan jadwal harian oleh ketua RT. Setiap harinya air di
kamar mandiku hanya mengalir selama satu jam di pagi hari. Kalau yang tinggal
di rumahku cuma nenekku sih, air segitu udah cukup. Masalahnya, sekarang di
rumah ini dihuni lima orang. Mana cukup aliran air yang hanya mengalir selama
satu jam itu digunakan selama satu hari penuh. Ini salah satu alasan yang
membuatku harus berfikir dua kali kalau pulang kampung. Hampir saja aku datang
ke rumah ketua RT buat memprotes kejadian ini. Eh, ternyata nenekku sudah
melakukannya terlebih dahulu. Hasilnya? Nggak ada perubahan. Jadi keluargaku
memutar otak untuk mengatasi permsalahan ini. Setiap aliran air sudah menyala,
bapakku akan mengisi penuh bak kamar mandi, ember, gentong, atau apapun itu
yang bisa digunakan sebagai tempat penampungan air. Mungkin slogan yang cocok
untuk situasi setiap pagi di rumahku adalah “Tidak Akan Ku Biarkan Setes Airpun
Terlewatkan!!!”. Tetapi, tetap saja air itu kurang, huhf!!! Dicukup-cukupkan
saja lah.
Orang-orang di
kampunng ini juga masih tetap sama. Ingatanku tentang penduduk di kedua desa
ini memang sangat samar, bahkan semakin lama semakin mengabur. Maklum aku
jarang pulang kampung sih. Tapi aku masih bisa melihat keramahan mereka dan aku
masih bisa merasakan rasa kekeluargaan antar penduduknya. Satu sama lain nggak
segan buat saling bertegur sapa waktu berpapasan di jalan. Warga di kampung ini
juga masih sering berbagi makanan yang baru mereka masak di dapurnya. Di waktu
senggang mereka, misalnya sore hari sambil menunggu adzan magrib mereka akan
saling mengunjungi tetangganya. Mereka berkumpul di teras rumah sekedar untuk
membicarakan beberapa hal yang sebenarnya aku sendiri nggak terlalu ngerti apa
yang mereka omongkan. Maklum, kemampuan Bahasa Jawaku cuma di level rata-rata.
Kayaknya sih mereka ngomongin tentang kondisi sawahnya, panen padi, tambak
ikan, dan beberapa cerita tentang keluarganya.
Setiap harinya
sewaktu sahur, ada anak-anak kampung yang hanya bermodalkan ember, gentong dan
pemukulnya berkeliling kampung. Dengan kerasnya mereka berteriak-teriak
“Saur!!!, Saur!!!” untuk membangukan warga desa. Di kota mana ada yang kayak
gini. Nah, waktu malam takbir ternyata kegiatan takbiran keliling kampung
seperti yang aku lakuin dulu waktu masih kecil masih berlangsung sampai
sekarang. Anak-anak berkumpul di masjid (aku ingat kalau masjid yang ada di
Desa Ringin namanya Masjid Al-Amin) membawa obor dan memulai perjalannya
mengelilingi kampung sambil bertakbir. Kemudian silaturahmi antar warga mulai
bisa dilakukan. Warga saling mengunjungi dan saling bermaaf-maafan. Jadi kalau
di kampungku itu acara maaf-maafannya udah bisa dilakui mulai dari malam
takbir, trus bisa dilanjutin setelah Sholat Id. Esok harinya setelah Sholat Id,
aku dan keluargaku meneruskan silaturahmi, mengunjungi rumah demi rumah dan
saling bermaaf-maafan. Selama perjalanan kami menemui banyak orang yang juga
melakukan silatrahmi. Jadi acara salam-salaman dan maaf-maafan juga kami
lakukan di jalan. Sebenernya aku nggak kenal hampir semua orang yang aku temuin
di jalan, tapi karena orang tuaku kenal mereka jadinya aku ikut salaman aja.
Ciri khas lebaran di desa “Kenal nggak kenal orangnya, kalau udah ketemu cukup
pasang senyum, saling berjabat tangan, dan dengan ikhlas mengucapkan minal
aidzil wal fa idzin. Mohon maaf lahir dan batin”. Nah, ada nih kalimat yang
biasanya diucapkan ketika kita silaturahmi meminta maaf kepada orang yang sudah
tua (seperti sesepuh desa dan mbah-mbah yang sudah tua). Jangan tanya tentang
kalimatnya ke aku ya… Sampai sekarang aja aku nggak pernah ngucapin kalimat
itu, nggak ngerti apa artinya, dan nggak pernah bisa ngulang kalimat itu
meskipun udah dikasi tau berulang kali sama orang tuaku. Ya udah deh, kalau
ketemu sama mbah-mbah di desa aku cukup bilang “Mbah minal aidzil wal fa idzin.
Mohon maaf lahir dan batin”. Setelah itu orang tuaku akan menimpali “anakku
nggak bisa Bahasa Jawa mbah”, dan mereka pun tertawa.
Aku juga sempat
merasakan acara 17 Agustus di desa. Ini untuk pertama kalinya. Beberapa remaja
meminta sumbangan ke rumah-rumah untuk menyelenggarakan acara 17 Agustus.
Beberapa perlombaan sederhana kemudian dilangsungkan. Lomba sepak bola
menggunakan daster, lomba balap sepeda, lomba menjunjung botol berisi air,
entah lomba apa lagi. Yang pasti ada lomba makan kerupuk, soalnya Sita (anak
tetangga yang tiap hari main kerumaku) ikut perlombaan itu. Anak kecil itu
selalu menceritakan semua hal yang dia lakukan kepadaku dan adikku.
Hal lain yang
nggak berubah dari orang-orang di kedua desa ini juga rasa gotong royongnya.
Kalau ada warga yang sedang memiliki gawe (kegiatan),
mereka akan datang berbondong-bondong untuk saling membantu. Kebetulan
kedatanganku ke kampung ini bukan hanya untuk merayakan lebaran saja, tapi juga
umtuk meghadiri acara pernikahan saudaraku yang ada di Desa Belog. Nah, di
sinilah aku melihat bagaimana warga desa ini masih memperlihatkan ciri khas
masyarakat Indonesia “Gotong royong dan saling membantu”. Yah! Inilah yang
mereka lakukan. Penduduk sekitar, bukan hanya tetangga tetapi mereka yang
rumahnya masih bisa menjangkau tempat acara dilangsungkan akan datang untuk
membantu di empunya kegiatan. Mereka akan saling membagi diri dan mulai
membantu. Warga laki-laki akan membantu mendirikan tenda, mengecek sound,
memutar musik, dan lainnya. Sedangkan para wanita akan membatu di dapur seperti
memasak makanan, membuat kue, membungkus makanan, membuat bingkisan, pokoknya
urusan perut deh. Aku juga ikut bantu dong!!! Bantu apa aja, ya… apa aja
yang bisa aku kerjain, pasti aku kerjain. Termasuk bolak-balik warung buat beli
bahan-bahan pembuat kue yang kurang. Semuanya kita kerjain dengan suka rela.
Biasalah ibu-ibu kalau ketemu pasti kerjaannya ngegosip. Jadi tangannya kerja,
mulutnya juga kerja. Hahahaaa…. Nggak papa kok, kan yang penting kerjaannya
selesai. Iya kan? Aku juga belajar beberapa istilah baru selama membantu di
rumah saudaraku ini. misalnya istilah “semut”. Coba tebak apa maksudnya? Waktu
seseorang mengatakan hal ini, beberapa orang akan berjejer membentuk satu
barisan, kayak semut gitu. Nah, dengan posisi berbaris seperti ini akan
memudahkan mentrasfer makanan dari dapur ke tempat tujuan. Ya, kayak menyajikan
makanan secara estafet gitu.
Hah, pulang ke
desa memang memberikan kesan tersendiri buatku. Meskipun harus melalui
perjalanan yang panjang, aku rasa semuanya terbayar. Terbayar dengan melihat
situasi desa yang nyaman, sawah-sawah yang masih terbentang luas, pagi yang
selalu sejuk, keramahan penduduknya, beberapa pengalaman baru yang bisa aku
dapatkan, dan cerita-cerita berbeda yang bisa aku ceritakan untuk teman-temaku
di kota.







0 komentar:
Posting Komentar