Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Jumat, 18 Februari 2011

Buka Peluang Untuk yang Muda

Oleh : Fifin Diah Olivianti

Kereta  reformasi yang membawa bangsa ini menuju rel demokrasi 10 tahun lalu belum juga beranjak dari stasiun perbaikan kereta api. Ini membuat gerbong-gerbong yang berisikan harapan bangsa atas perbaikan kesejahteraan, hukum, sosial, politik, dan lain sebagainya belum juga mencapai pemberhentian hingga stasiun terakhir, yakni terciptanya aplikasi atas harapan-harapan tersebut. Harapan terbentuknya dinamika reformasi total dan menyeluruh di bangsa ini malah bermuara pada kelakuan bangsa yang lebih buruk dari rezim sebelumnya. Lebih ironis lagi ketika maraknya korupsi, kolusi, dan nepotisme  (KKN) yang semakin menggila. Belum lagi tingkat kemiskinan yang semakin meningkat, semuanya seakan menjadi pembuktian dan pembenaran atas gagalnya proses reformasi.
Berbagai faktor disinyalir menjadi pemicu kegagalan reformasi. Masinis-masinis tua ini masih lebih mendahulukan kepentingan kereta-ketreta bisnis yang penuh sesak oleh kepentingan asing dan golongannya dibanding kepentingan sebenarnya, yaitu “rakyat”. Kegagalan pemimpin nasional yang lebih didominasi orang tua kini harus mulai diubah. Pikiran-pikiran radikal kaum muda harus mulai berkuasa. Namun pada kenyataannya, peran pemuda masih dipandang sebelah mata oleh agen-agen penyalur pemimpin bangsa, yakni partai politik. Kaum muda sendiri masih didiskriminasi dan tidak diperbolehkan ikut andil dalam penentuan kebijakan-kebijakan baru. Partai politik sendiri terkesan masih mempercayai pemimpin-pemimpin tua yang terbukti lamban dalam mengambil keputusan. Padahal kaum muda sendiri telah membuktikan jati dirinya berkali-kali.
Dalam state history, pemuda 1928 berhasil menggelorakan persatuan dan kesatuan dalam semangat perubahan menuju Indonesia Merdeka 100%. Bukti konstruktf lainnya adalah ketika kaum muda menculik Sukarno-Hatta untuk memaksa mereka memproklamirkan bangsa ini tanpa menunggu janji kemerdekaan yang akan diberikan Jepang. Dan masih ingat perjuangan Arif Rahman Hakim dan rekan-rekan muda lainnya dalam menggulung rezim orde lama dan mengganti menjadi rezim orde baru pada pertengahan 1960-an. Bukti teraktual adalah pengawalan reformasi yang yang menyebabkan runtuhnya orde baru. Hal itu juga dilakukan oleh mahasiswa pada tahun 1998 yang lalu. Alasan lain yang menjadi pembenaran ilmiah adalah karena pemuda masih memiliki nilai tawar idealis yang tinggi.
 Lain dari itu, mereka cepat mengambil keputusan yang mereka anggap benar dan dengan sigap menolak kebijakan-kebijakan yang menyimpang. Mereka masih belum terkontaminasi kepentingan politik, golongan dan kepentingan asing, sehingga diharapkan mampu mengubah kebijakan-kebijakan publik yang dianggap menyimpang.
Kontribusi-kontribusi demikianlah yang mampu melatarbelakangi pemuda dan mahasiswa sebagai pemegang kepemimpinan yang baru. Posisi pemuda dalam partai politik harus lebih diperhatikan. Partai politik merupakan salah satu keran penyalur bakal calon pemimpin bangsa haruslah mulai melirik pemuda regenerasi baru. Dengan kemapanan karakter dan cara berfikir mereka, partai politik dapat berkembang lebih maju dengan program kerja yang lebih selektif dan variatif. Dari sinilah akan lahir pemimpin-pemimpin baru yang lebih bijak dalam menyikapi kompleknya permasalahan Indonesia. Dan kereta reformasi yang membawa bangsa ini menuju rel demokrasi diharapkan akan kembali berjalan menuju gerbong kesejahteraan.

0 komentar: