Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Rabu, 05 Januari 2011

Dari Asia-Afrika Menuju Linggarjati

“Pak ke Asia-Afrika ya”, Dimas menyetop sebuah taksi. 
Dan mulailah perjalanan kami menjelajah tahun 1946-1955.

        Tak butuh waktu lama untuk sampai ditujuan kami, hanya sekitar 20 menit dengan taksi dan sampailah kami di depan Gedung Merdeka. Pagi ini (16 Jan) kami (Ananta Wijaya, Chania, Desak dan Fifin) dipandu Dimas B. Permana (alumni MP angkatan 30) berkeliling kota Bandung. Menghabiskan waktu luang setelah tenaga terkuras karena keikutsertaan kami dalam sebuah perlombaan. Sesampai di depan Gedung Merdeka mulailah kami menyusuri jalanan Asia-Afrika. Terlihat jelas arsitektur Belanda yang masih dipertahankan sebagai ciri khas bangunan-bangunan yang berdiri kokoh di area ini.

   
         Beberapa meter dari Gedung Merdeka, aku (Fifin) tertarik dengan sebuah pintu yang disebelahnya berisi tulisan “Musium Konperensi Asia Afrika”. “Mau masuk?” tanya Ananta, pembina kami. Dengan sigap aku mnjawa “iya kak”, dan yang lainnya (Chania & Desak) hanya mengikuti “boleh”. Sejak tahun 1945 bagunan yang awalnya bernama Gedung Concordia ini memang telah terpilih sebagai tempat Konfrensi Asia Afrika. Hingga pada Maret 1980 gedung ini kembali dipercayakan menjadi tempat peringatan Konferensi Asia Afrika yang ke-25 dan pada puncak peringatannya diresmikanlah Museum Konferensi Asia Afrika oleh Soeharto, Presiden Republik Indonesia ke-2.
   
        Begitu memasuki gedung ini kita bisa melihat berbagai koleksi foto-foto dan barang-barang tiga dimensi yang berhubungan dengan Konferensi Asia Afrika 1955 (baik sebelum dan sesudah peringatan KAA), patung tokoh-tokoh KAA, ulas pers, dan beberapa foto-foto dokumenter konfrensi lainnya. Gedung megah ini kental sekali nuansa art deco dari lantainya yang terbuat dari marmer buatan Italia yang mengkilap dan untuk penerangannya dipakai juga lampu-lampu bias kristal yang tergantung gemerlapan.

   
        
        Ruang pameran ini juga menyediakan komputer multimedia yang didalamnya dapat kita lihat bagaimana latar belakang peristiwa lahirnya Konferensi Asia Afrika, dampak Konferensi Asia Afrika bagi dunia internasional, Gedung Merdeka dari masa ke masa, dan profil negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika.
Setelah puas menjelajah ruang pameran dan mengambil beberapa foto, kami memasuki ruang konfrensi. Replika suasana Konfrensi Asia Afrika masih terawat baik dengan puluhan bendera negara-negara peserta KAA yang berjejer rapi di belakang tokoh KAA. Di sebelah kanannya terpajang gong perdamaian Asia-Afrika 2005 dengan ukuran besar. Kursi-kursi merah juga tertata rapi di dalam ruangan yang bisa digunakan sebagai tempat istirahat pengunjung. Di musium ini juga terdapat ruang Audiofisual. Sayangnya saat kami berkunjung ruang audiovisual sedang direnovasi.

   
         Dua hari setelahnya (18 Jan) kami (Kak Ananta, Chania, Desak dan Fifin) berkesempatan mengunjungi kota Cirebon. Kali ini, kami ditemani keluarga dari adik pembina kami. Awal perjalanan kami mengunjungi Musium Linggarjati, yang terletak di Desa Linggarjati. Tak butuh waktu lama sampai di Desa Linggarjati, akses jalan aspal yang mulus memudahkan kami yang menggunakan kendaraan pribadi menjangkau lokasi ini.
Tiba di pelataran Musium Linggarjati, hawa sejuk dan damai langsung bisa kita rasakan. Bangunan kuno dan megah yang dikelilingi oleh taman yang asri, dengan suasana yang tidak terlalu ramai, semakin menambah penghayatan suasana Linggarjati. Setelah mengalami beberapa kali renovasi dengan masih mempertahankan arsitektur aslinya, akhirnya bangunan tempat bersejarah ini bisa dikunjungi lagi. Yah, didalamnya kita masih bisa melihat jelas beberapa peninggalan-peninggalan dari pelaksanan Perjanjian Linggarjati (10-13 November 1946).
        Kerena telah beralih fungsi sebagai musium, maka beberapa ruangan di dalam bangunan ini telah dialih fungsikan. Misalnya ruang tamu dipergunakan sebagai ruang untuk melakukan lobi dan pembelian tiket. Ruang tengah yang merupakan ruang utama, dimana Perjanjian Linggarjati dilaksanakan. Terdapat miniatur peristiwa berlangsungnya Perjanjian Linggarjati, foto-foto dokumentasi dan beberapa barang antik lainnya. Dan ternyata posisi kursi yang diduduki para anggota perundingan masih sama seperti dulu, sewaktu perundingan dilangsungkan. Papan nama dari masing-masing peserta delegasi juga ditempatkan pada posisinya masing-masing.
        Kedatangan kami waktu itu berbarengan dengan musim liburan siswa sehingga ada rombongan sekolah yang tengah melakukan pariwisata. Terdengar suara salah satu pegawai yang sedang menjelaskan seluk-beluk musium dan kronologis peristiwa Perjanjian Linggarjati. Meski harus berdesak-desakan dengan siswa SD, akhirnya kami bisa berfoto juga. Ha ha ha...
        Masuk lebih dalam lagi, terdapat kamar-kamar tidur yang bersebelahan dengan ruang perundingan. Kamar-kamar ini merupakan tempat peristirahatan yang dipergunakan oleh para delegasi Indonesia dan Belanda selama mengikuti jalannya perundingan. Di dinding kamar juga menempel foto-foto dokumentasi, seperti foto para anggota delegasi, foto pendiri negara (Ir. Soekarno dan Moh. Hatta) dan dokumentasi kegiatan pers pada masa itu. Furniture kuno masih tertata rapi sebagai pelengkap kamar, meskipun furniture ini bukanlah furniture aslinya.
        Lelah berkeliling, kami beristirahat di taman belakang musium. Di bawah Musium Linggarjati masih di area taman, terdapat sebuah tugu Perjanjian Linggarjati yang menuliskan isi dari Perjanjian Lingarjati. Puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke objek wisata berikutnya. Dan berakhirlah perjalanan panjang kami mengikuti dua peristiwa besar bagi bangsa Indonesia, menjelajah dua kota berbeda dan bertemu tokoh-tokoh ternama.

0 komentar: